Bioskop Metropole Jakarta Klasik

Rumah

Saya melanjutkan wisata “nostalgia” ini dengan mengunjungi Jalan Pegangsaan Timur, yang bisa ditempuh sekitar 10 menit saja dengan bersepeda ataupun berjalan kaki. Ada apa di sana? Dari pinggir jalan raya, mata saya langsung tertuju ke sebuah bangunan bercat putih dengan menara berlapiskan kaca di setiap sisi. Mengingatkan saya pada gedung-gedung tempo dulu yang berada pada masa kolonial.

Ternyata, bangunan berlanggam art deco ini merupakan sebuah bioskop bernama Metropole, yang tergabung dalam 21 Cineplex. Memang, bioskop yang semula dinamai Bioscop Metropool ini merupakan bioskop tertua di Jakarta. Pasalnya, Metropole sudah berdiri sejak tahun 1932, namun baru diresmikan pada tahun 1951. Pada tahun 1960, Presiden Soekarno yang mencanangkan kebijakan anti-Barat, mengubah namanya menjadi Megaria.

Namun, setelah bergabung dengan 21 Cineplex Group, nama bioskop ini kembali berubah menjadi Metropole. Walaupun bagian dalamnya sudah diubah menjadi lebih modern, keaslian bangunan tetap dipertahankan, sehingga membuat Metropole masuk ke dalam daftar bangunan cagar budaya yang tak boleh diganggu gugat. Bangunan yang dirancang oleh arsitek Liauw Goan Sing ini pun merupakan bioskop yang menjadi saksi sejarah perfilman Indonesia, mengingat banyaknya film-film lokal yang telah diputar di bioskop ini sejak tahun 1955.

Sebuah gedung bioskop tentunya dilengkapi dengan genset sebagai sumber listrik alternatif ketika listrik dari PLN padam. harga genset yang murah bisa didapatkan melalui Distributor jual genset silent 650 kva di Jogja.

Masjid Cut Meutia

Setelah berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit dari Gedung Joang 45, ada sebuah plang melingkar bertuliskan “Masjid Cut Meutia”. Plang tersebut menjadi “penyambut” para pesinggah bangunan beratap hijau ini. Biasanya, mereka adalah kaum Muslim yang ingin menunaikan ibadah di masjid berfasad putih tersebut. Sekilas, bangunan yang terdapat di Jalan Cut Meutia No. 1 ini tak tampak seperti sebuah masjid.

Bangunan ini lebih terlihat seperti sebuah bangunan museum. Tak heran. Pasalnya, bangunan ini merupakan salah satu sisa kejayaan masa kolonial yang telah beralih fungsi menjadi masjid. Pada awalnya, bangunan ini merupakan sebuah kantor biro arsitek N.V Bouwpleg, milik P.A.J Mooijen, sang arsitek di balik penataan kawasan Gondangdia. Namun, seiring berjalannya waktu, bangunan ini berkali-kali berubah fungsi, mulai menjadi kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda, hingga menjadi kantor Kempetai Angkatan Laut pada masa pendudukan Jepang.

Akhirnya, pada 18 Agustus 1987, barulah bangunan ini diresmikan sebagai masjid tingkat provinsi, yang dinamai Masjid Cut Meutia. Meskipun sudah menjadi rumah ibadah, keaslian bangunan ini sama sekali tak diganggu gugat. Bahkan, tulisan Bouwpleg—nama semula bagi bangunan ini—masih bisa Anda lihat di salah satu ruas bangunannya.

Rumah
Rumah Mewah Bergaya Etnik Jawa Menggunakan Gebyok Jati

Material utama yang biasa digunakan dalam membuat sebuah bangunan modern seperti sekrang ini tak lain dan tak bukan adalah batu bata. Ya, banyak masyarakat membangun rumah-rumah maupun bangunan lainnya menggunakan batu bata. Bahkan batu bata sendiri telah digunakan sejak lama sebagai bahan material pembuatan bangunan yang kuat dan kokoh, terlebih …

Rumah
Jakarta – Cisauk Menyimpan Potensi Besar

Diprediksi akan terus mengalami perkembangan, Serpong dan sekitarnya masih menjadi kawasan yang menjanjikan. Pesta properti di kawasan Serpong dan sekitarnya tampaknya belum juga usai. Pasalnya, hampir di setiap jengkal lahan terdapat pembangunan produk properti, sebut saja ruko, perumahan, pusat belanja, dan perkantoran. Terlebih, tersedianya jalur kereta api di kawasan ini …

Rumah
Membangun Rumah dengan Penuh Cinta

Panas yang menerpa kawasan Bekasi terasa sirna begitu memasuki kediaman ini. Sang tuan rumah, Olivia Dwi Lestari (36), menyambut RUMAH dengan senyuman ramah. Lantas, mengantar kami berkeliling rumah mungil yang dibangunnya dengan penuh rasa cinta. Oliv—begitu ia biasa disapa—bersama sang suami Arief Hediyanto Roehadi (36) membangun rumah dari nol. Mereka …